CERITA PENDEK


Cerita Pendek :❤

No One Knows

by: Olivia Linda Febriana


Tik..Tes.. Tik.. Tes..
Air mataku menetes bergantian, terjatuh di jalan aspal yang kasar. Di benakku dan bagiku hidup ini adalah disaat bahagia sejenak berlangsung lalu penderitaan yang mendalam dan menyakitkan. Tak ada yang lain yang kurasa dihidup ini. Begitu memuakan dan hina. Begitu aneh penuh tanda tanya. Apakah semua ini? Untuk apa semua yang kita perbuat? Kita bekerja keras banting tulang?. For what? Tidak ada yang tahu.

Bisakah aku bangkit dari semua beban berat ini? Atau aku harus menyerah saja dan meninggalkan dunia ini. Bagi sebagian orang dunia ini begitu hingar bingar penuh gemerlap dan kesenangan. Tapi tidak bagiku. Semua yang ada di hidup ini hanyalah kemalangan. Semua kebahagiaan bagi mereka hanyalah kesengsaraan bagiku. Semua ini sungguh tampak tak adil. Di dunia yang sebesar ini, aku hanyalah wanita hina bagai debu kecil  dibanding semua emas dan berlian yang berkelap-kelip. Mungkin benar kata mereka, aku ini hanyalah sampah. Tak ada gunaku hidup. Yang hanya menyusahkan dan tak tahu malu. Aku hidup dari semua cibiran pedas masyarakat. Mereka yang selalu memandang penuh geli dan jijik.

Apa ini yang aku inginkan? Bukan. Tapi, apakah kita bisa memilih seperti apa takdir kita? Aku hidup sebatang kara. Yang harus menebus bulir-bulir beras dengan berliter-liter keringat mengucur. Penuh helaan nafas dan isak tangis. Dan sampailah aku di pilihan terakhir, sebuah lingkungan lain. Di lingkungan di mana kita bisa berbagi sedih kita dengan memberi kepuasan orang lain demi uang yang menggiurkan.

Ya. Mungkin otak ini sudah rusak. Tubuh ini sudah lelah. Dan hati ini mati rasa. Tapi aku tau, mana yang dosa dan tidak. Maka, kusingkirkan pilihan akhir penuh sesat. Ku mulai lagi hidup segan ini. Hingga suatu hari, disaat aku lelah dalam hidup. Sepulang dari kegiatan belajar di Sekolah Menengah Atas aku hanya menapakkan kaki kesana kemari. Tanpa arah dan tujuan, yang pasti bukan arah ke rumah. Aku letih untuk menjalani hidup yang begitu kejam. Aku tau, yang kulakukan hanyalah membuang waktu tanpa tujuan. Aku melangkah satu demi satu, dari surya menyengat kulitku hingga surya bersembunyi dalam dekapan. Entah apa yang aku pikirkan dari sepulang sekolah, tapi ini entah sampai ujung bumi mana. Kulalui jalan kecil remang-remang. Di ujung jalan tampak banyak lelaki bejad berkumpul. Tanpa berkutik, aku memutar arah jalanku sebisa mungkin jangan membuat diriku diketahui. Karena sudah pasti aku tahu, apa pikiran kotor mereka. Aku berhasil memutar badan, namun aku kembali dirundung masalah lebih besar. Bahkan sangat besar. Ada anjing liar penuh liur di depanku setelah tepat aku membalikkan badan. Hampir aku berteriak kaget, namun tiba-tiba.

“Sttt... Diam dan jangan bersuara.” Bisikan lembut di telingaku saat mulutku dibekap.
Sontak aku takut dan syok. Siapakah orang ini? Apakah salah satu preman jalanan bejad itu? Atau perampok penuh senjata tajam? Jantungku berdegup kenjang. Rasanya seperti akan lepas dan mungkin dalam hitungan beberapa jam dari sekarang akan berhenti berdetak. Entah mengapa, aku merasa tak apa, mungkin lebih baik aku mati saja. Mungkin esok akan ada berita tentang kematian seorang gadis yang meninggal dunia dengan cara yang sadis. Dilema merasuki diriku. Jika aku menggigit tanya orang asing ini lalu lari, aku pasti akan diketahui oleh perampok jalanan dan sudah pasti akan ditangkap. Jika aku diam saja bagai anak kucing digigit induknya berpindah tempat, aku akan dimutilasi dengan sadis. Ohh tidak. Aku memutuskan untuk pilihan pertama. Maka, aku gigit tangan itu.

“Oww.. jangan gigit tanganku, Lessie. Ini aku Jack..” suara itu setengah berbisik dan setengah menjerit kesakitan.
Aku heran dan otakku bekerja mengingat suara dan nama itu. Astaga, ternyata orang asing itu Jack. Saat aku akan berlari, Jack kembali menarik lenganku dengan lengan kirinya. Yang mana lengan kanannya kesakitan dan terdapat bekas gigitanku.
Hujan deras tiba-tiba turun tanpa ragu. Kilat menari bersama dengan guntur yang membuat bulu kudukku sesekali terkejut. Jack dan aku sontak bersembunyi diantara rumah dengan rumah. Kami berjalan sesunyi mungkin agar tidak menarik perhatian para preman. Aku tahu, meskipun postur Jack ideal dihiasi otot kencang dan kekar. Namun jika dibanding dengan lima preman penuh tato dan kalung rantai, siapa tahu ada pisau tajam atau bom nuklir dibaliknya pasti Jack akan kewalahan. Walaupun sudah semua tenaga Jack dikerahkan, tetap saja tak mampu mengalahkan preman-preman itu.
Seluruh kujur tubuhku beserta seragam SMA ku sudah basah kuyup. Sama halnya dengan Jack, meskipun dia memakai jaket kulit tapi itu tidak membantu banyak. Kami berjalan di jalan yang begitu sempit sambil mengendap-endap. Hujan masih berderu dengan kencang karena terpaan angin.
Tar.. Srekk.. srakc..
“Aaaaaa....” Aku berteriak sekuat tenaga. Aku melihat kilatan petir di depan bola mataku. Dan aku terbanting keras di jalan basah dengan banyak genangan air. Aku melihat darah mengucur bercampur dengan air hujan. Pandanganku mulai buram hanya tampak beberapa kaki berlari kearahku. Aku merasa ada yang memelukku dan tangan itu, tangan Jack.
Dua orang remaja, menjadi korban dari insiden pohon tumbang dilokasi Jalan Sudirman kemarin malam. Kini sang remaja laki-laki masih belum sadarkan diri dan remaja lainnya mengalami luka-luka kini dirawat di IGD dan masih terbujur lemas.
“Hah..” Aku terkejut dan mulai menyadarkan diri. Apakah aku sudah mati? Tempat apa ini?
“Pagi... Anda sudah sadar? Siapa wali anda?” kata seorang dengan baju putih bersih.
“Maaf? Bolehkah aku bertanya apakah yang terjadi?”
“Anda adalah korban dari pohon tumbang, pacar anda yang membawa anda ke sini dengan menahan lukanya, sehingga dia kehilangan banyak darah. Apakah anda ingat sesuatu? Saat hujan deras, ada petir, seperti itu? ”
“Hah? Pacar saya? Siapa?” kataku sambil mengingat reka kejadian yang menimpaku. “Ah, iya, saya ingat.. bagaimana keadaan Jack? Dimana dia?” kataku khawatir.
“Oh, dia ada di kamar sebelah. Namun dia belum sadarkan diri.”
Aku terkejut dan murung. Bagaiman ini? Bagaimana kalau aku adalah penyebab kematian seseorang? Aku berusaha berdiri dan berjalan ke kamar Jack. Saat kubuka pintu, terlihat keluarga Jack mengelilinginya.
“Siapa perempuan tak tahu diri itu? Apa yang ada dipikirannya, bagaimana bisa dia berdua dengan anakku. Siapa dia, apakah putri kerajaan yang harus diselamatkan. Darah harus diganti dengan darah!” sontak aku terkejut. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhku yang lemas. Aku kembali menutup pintu, namun pintu berdecit dan...

Selama 5 detik jantungku berhenti. Wanita bertubuh gemuk itu menghampiriku dengan muka marah. Aku mundur satu langkah.. dua langkah  namun tetap tak ada jalan keluar melarikan diri.
“Apa yang kamu lihat! Puas kamu sekarang? Hidupmu hanya mencelakai orang lain saja. Pergi sana, jangan muncul di hadapanku!” wanita itu mendorong dan mencaciku di depan orang banyak.
Aku tak berkutik sedikitpun. Semua badanku terasa beku. Sesaat setelah pintu kamar Jack ditutup aku merasakan panas yang luar biasa menggerogoti badanku. Aku kembali melangkah putus asa berusaha menguatkan diri supaya air mata tak menetes. Kembali aku melihat sesuatu yang tak kusuka.
“Maaf Mba? Adakah wali anda?” tanya perawat rumah sakit dan tampak nota pembayaran ditangannya.
“Tidak. Saya hidup sendiri.” kebohongan hina yang kulontarkan. Apa yang bisa diharapkan dari keluarga broken home. Ayahku tidak bisa dikatakan sebagai manusia lagi, dia sungguh tak layak. Terkadang tengah malam, datang ke rumah dengan botol bir ditangan. Tak jarang dia tidak pulang berhari-hari, dan begitu pulang membawa luka memar dan darah. Beberapa kali tertangkap mencuri dan paling parah melakukan pelecehan seksual pada anak SMP. Orang yang mengandung dan melahirkanku, bekerja bersama pria hidung belang. Mencari uang dengan sesuatu yang tak layak disebut sebagai pekerjaan. Ya, sebagai pelacur. Aku tahu ekonomi keluarga memang sulit. Bagaimana tidak, aku anak ke-4 dari 6 bersaudara.
Kakak tertua, sebelum selesai SMA dia sudah menghamili pacarnya. Maka kini dia sudah berkeluarga dan tidak beda jauh dengan keluarga asalnya. Kakak keduaku, dia perempuan yang cantik. Dulu aku amat mengidolakannya sebab dia terlihat ibu kedua bagiku. Sangat sabar dan penyayang. Namun naas, dia terlalu frustasi pada hidup ini, maka dia menjadi penerus ibu sepertinya. Hidupnya mewah dengan uang yang didapat secara tidak halal. Entah dia bahagia dengan uang itu atau tidak. Adikku yang baru saja akan masuk SMA, terhenti perjalannya dikarenakan hidup yang keras ini memang dia tinggalkan. Tapi aku yakin, dia sudah tenang dan bahagia disana. Haruskah aku menyusulnya? Hidup ini emang keras. Tak sulit berjalan di jalan yang salah.

Meski hidupku ini sudah teracak-acak. Tapi aku masih bisa merasakan apa itu bahagia. Walau itu sedikit dan amat singkat. Sejak kecil, saat duduk di bangku Sekolah Dasar, aku bertemu dengan dia. Seorang laki-laki lugu dan polos yang sering di bully mungkin karena kepintarannya. Setiap dia dikeroyak, aku datang, dan kita memiliki luka yang sama. Disaat dia sendiri di kelas, aku datang, duduk disampingnya. Menguatkannya, mengajarinya, dan melatihnya menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Yang kuat meski berkali-kali didorong dan terjatuh. Yang tetap tegak meski berkali-kali dilecehkan. Yang tersenyum meski muka babak belur. Saat tamat SD, dia mulai sadar akan hidupnya. Dia harus berontak disaat dia tak suka. Aku juga tahu, mengapa dia mudah sekali untuk di bully. Dia hidup di keluarga kaya raya yang semuanya terpenuhi. Dia dituntut oleh ibunya untuk belajar ini itu sampai bisa. Dia bagai lebah pekerja yang harus giat mencari madu demi sang ratu lebah. Aku tahu hidupnya tertekan dan dia menjadi anak yang pendiam dan tertutup.

Melangkah di bangku SMP, dia mulai berani melawan yang dia tak suka. Bahkan dia sampai diusir dan tinggal di rumahku yang reyot. Bersama dalam dingin dan bersama dalam hujan yang ikut masuk ke dalam rumah. Kita selalu bersama kemanapun itu. Aku bisa kuat juga karena dia. Sampai suatu hari di taman yang sepi.
“Les, kamu tahu aku hanya punya satu hal yang berharga di dunia ini.”
“Hanya 1? Sedikit sekali, aku saja punya 4.. Aku tahu yang berharga buat kamu, PS 4 mu kan..”
“Bukan, kamu salah besar. Dari semua yang aku miliki, entah itu dari ayah atau ibuku semua itu hanya memberi kesenangan semu. Tak ada artinya lagi. Alasanku masih hidup sampai sekarang, adalah karena hal berharga ini.”
“Wah.. kamu memang punya gangguan mental yah? Bagaimana bisa kamu hidup hanya karena 1 hal seperti itu. Bagaimana kalau 1 hal itu menghilang. Apakah kamu akan bosan hidup?”
Dia mengernyit “Iya, aku tidak masalah untuk meninggalkan dunia ini. Tapi jangan pernah meninggalkanku yah, Lessie...” dia menatapku dalam-dalam. Perkataannya seperti terus berdengung di telingaku. Seakan waktu berhenti sejenak.
“Apasih yang kamu katakan.. Tak jelas deh..” kataku mencairkan suasana yang akan menjadi canggung setengah mati.
“HAL BERHARGAKU ADALAH KAMU, LESSIE..!!! AKU BISA MATI JIKA KAMU MENGHILANG!!!!! I LOVE YOU, LESSIE!” kata dia berteriak amat kencang sampai telingaku terasa sakit. Aku hanya diam tertegun. Matanya seakan berkilauan bersama bulan dan bintang di hadapanku. Itu adalah hari paling istimewa dalam hidupku.
THE END
 Jangan ragu untuk berkomentar yah guys...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bahasa Daerah Dayak

Pidato bertema Global Warming