Cerpen Detektif Cinta


Detektif Cinta
Dooorrr...!!!!
Itu tembakan peringatan. Mataku terbuka dengan badan terasa tak bertenaga dan kaku seperti habis dibius dengan dosis tinggi. Tanganku terikat amat kuat bahkan hal serupa terjadi pada kakiku. Oh.. apakah ini ajalku? Suara tertawa bagai devil laugh terdengar menggema. Pistol berisi peluru diarahkan tepat di depan dahiku. Mataku terarah kedepan, menatap tajam pemegang senjata itu. Jantungku berdegup kencang akibat kilatan mata kita. Dia... Door!!!
            Pintu kamarku terbanting cukup keras. “Irena.. Bangun, udah siang nih.. cepet bangun!!!” teriak Mama dekat telingaku.
            “Mama.. aku terbangun gara-gara Mama. Padahal itu dah saat-saat menegangkan” aku menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
            “Emang kamu mimpi apa sih? Dikejar anjing sebelah atau orang gila perempatan?” ejek Mama.
***
“Wuahhhaaa.. Hahaahaa.. Hehehhe...” Brian, Benzo, dan Cintya sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Terlihat tawa dan senyum kocak di sorot mata mereka.
            “Apa ada hal perlu ditertawakan pagi-pagi gini?” tanyaku penasaran.
            “Iren sayang, kamu kaya ga tau aja kalau Benzo pagi-pagi selalu rada miring, apalagi kalau kemarin nilai ulangannya merah.” Jawab Cintya
            “Kalian ini, ayo masuk kelas, bentar lagi bel loh..” Kataku memecah suasana..
            “Wah.. BENCI dah dateng tuh.. ya ampun Brian ganteng banget..” kata cewek-cewek di sepanjang jalan yang kita lalui. Ya, BENCI adalah nama kelompok kami yang berasal dari singkatan nama tiap personil. BENCI diketuai oleh Brian, seorang cowok yang kharismanya tidak pernah habis tercecer keluar. Seperti ada isi ulang kharisma dan pesona dalam dirinya. Rumah Brian amat dekat dengan rumahku, lebih tepatnya kita bersebelahan. BEnzo, cowok gokil yang super humoris, setiap hal bisa menjadi lelucon. Bahkan ucapan guru yang sedang marah. “Benzo! Apa yang kamu bisa lakukan selain tidur di kelas!?!” Benzo dengan santai menjawab “Bapak tidak tahu apa yang saya bisa lakukan? Saya bisa tidur selama 1 hari full, bermain game tanpa membuka mata, mengendarai motor saat ditutup matanya dan yang paling jago adalah membuat bapak marah pada saya.” Sekejap suasana kelas seperti opera komedi, tak ada yang tidak memunculkan tawa. Aku heran bagaimana Benzo bisa melakukan itu semua? Jawaban Benzo “Bagaimana saya tidak bisa? Kan semua itu di dalam mimpi saya.”
Ada lagi cewek cantik yang amat modis bukan modus loh.. Banyak cowok yang mengantri menjadi pacar Cintya. Dan yang terakhir, that’s me! Irena Samantha, cewek yang kata banyak orang sih, orang yang tidak tahu aturan, jahil setengah mati, dan tomboi bagai koboi yang siap menangkap sasarannya, mungkin julukan itu sangat pas karena hobi kami sejak di bangku SMA. We’re detectif of LOVE.
***
Kalau tentang berdirinya BENCI, sangat berkaitan dengan unsur ‘Ketidaksengajaan’. Namun ketidaksengajaan atau kebetulan itu bukankah berbeda tipis dengan takdir?
Bel berbunyi di hari pertama masuk sekolah. “Aduh, mati aku, sudah bel lagi.” Irena berlari sekuat tenaga. Tiba-tiba muncul sesosok perempuan cantik di hadapan tepat setelah dia berbelok. BRUKK!!!
“Bukuku berceceran, maaaf aku tergesa-gesa hendak menyerahkan buku absen.”
“Ohh.. aku yang seharusnya meminta maaf.. Apakah kita dari angkatan yang sama?” balas Irena setelah sedikit terkejut karna dijaman ini, masih ada ternyata orang berbudi luhur yang tidak hanya menyalahkan orang lain. Setelah kejadian itu, Cintya mengenalkan Irena dengan Benzo, sahabat Cintya sejak SD.
“Cintya, Irena, aku mau memperkenalkan kalian  dengan my new friend, dia anak yang......blablabla...” kata Benzo. Tapi tanpa mendengar penjelasan Benzo, Irena tidak asing dengan aroma, cara berjalan dan postur orang itu meskipun dari kejauhan.
“Hai, aku Brian...”
“Hendrostus.” Kata Irena yang memotong perkenalan dari Brian.
“Loh, kalian sudah kenal?” kata Benzo keheranan. Diikuti Brian yang terkejut karena melihat tetangganya tepat dihadapannya. Cintya tertawa karena kejadian yang terjadi secara kebetulan lagi. Kita selalu bersama meskipun berbeda kelas, Cintya dan Irena sekelas, Benzo dan Brian di kelas sebelahnya. Banyak topik yang bisa kami bicarakan mulai guru yang paling genit, sampai tukang kebun yang pelupa atau korban kejahilan Irena. Namun seminggu ini, topik paling sering ialah penggemar rahasia Cintya.
Setiap harinya Cintya mendapat kado dari orang yang mengaku penggemar rahasia Cintya. Setiap kado diterima dengan cara yang cerdik dan tanpa bisa diselidiki siapa pengirimnya. Pertama, kado itu diletakan di loker umum milik Cintya. Kado itu ditemukan oleh Cintya pas saat istirahat dan bukannya setelah istirahat berlangsung. Jadi bagaimana mengetahui saksi mata dan jam nya beraksi? Kedua, kado tidak memuat nama pengirim, tapi terdapat kertas ketikan bertuliskan penggemar rahasia Cintya. Bagaimana menyelidiki tulisannya?
“Kalau menurutku, ini berasal dari orang dekat Cintya, karena barang yang diberikan.” Kata Irena.
“Ada apa dengan barang pemberiannya?” Kata Benzo.
“Kamu pasti pelakunyaa, kamu pura-pura tidak tahu.. iya kan” kata Irena mengejek Benzo dengan tatapan prasangka “Atau kamu, Brian, yang diam seribu bahasa menutupi ulahmu..” jari telunjukku menuju Brian.
Benzo terlihat tak mau kalah “Dan kebenarannya adalah kamu Irena, yang terlalu banyak bicara dan menuduh orang lain atas ulahmu.”
Cintya kembali tertawa karna tingkah mereka. “Haha..kalian ini. Barang pemberiannya adalah barang yang aku butuhkan. Pasti orang dekatku, karena mulutku yang ember ini, dengan mudah semua orang didekatku mengetahui apa yang aku inginkan hanya dengan mendengar sekilas.”
“Bagaimana tidak, kamu jatuh menyalahkan sepatumu, kamu kepanasan menyalahkan ikat rambut bulumu, kertasmu kotor menyalahkan pensil, penghapus, penggaris, bahkan selalu ditambahkan kata butuh yang baru.”
Brian berfikir keras, terlihat dari muka tampannya yang kaku dan mata hitam menerka-nerka sangat dalam. “Kita harus bisa mengawasi loker umum Cintya 24 jam. Karena loker itu tak terkunci, siapa saja bisa memasukannya.”
“Aha!” kata Benzo seperti mendapat ide cemerlang. Kami bertiga dengan serius hendak mendengarkan. “Kita minta tukang kebun mengawasi loker itu saja.”
Kita bertiga kembali lesu dan Brian memukul kepala Benzo dengan pensil yang sedari tadi dipegangnya. “Yang ada tukang kebun itu mengatakan kamu, Benzo pelakunya. Karena hanya mukamu yang diingatnya. Diakan sangat pelupa.” kata Brian.
“Andai saja kita bisa bertemu Sherlock Holmes, detektif Conan atau setidaknya detektif cilik Imung juga tak apa..” kata Irena yang terus mengayal soal detektif.
“Kita saja yang menjadi detektif? Ini adalah kasus pertama kita.” ujar Cintya.
Adrenalin kami semua serentak mencuat, mengapa tidak? Menjadi detektif dadakan di bangku SMA terdengar asik pula. Dibanding jenuh dengan pelajaran yang berbelit-belit dan tugas yang tak ada habisnya. Ini bisa jadi hiburan atau katakanlah hobi. “Oke!!!” jawab kita bertiga.
“Sekarang kita mulai dari hari kemunculan kado.” Kata Brian tegas. Kado pertama hari Senin bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah. Kadonya berupa lolipop yang dijajakan Bu Kantin. Kertas ketikannya bertuliskan ‘Hai, salam kenal. Penggemar rahasia Cintya.’ Dihari berikutnya, tidak ada kado di loker. Hari itu ada acara yang cukup padat di sekolah dari pagi hari. Terlihat banyak stand dilengkapi kertas ketikan bertuliskan Bazar Buku. Dihari ke-3 kado berisi alat tulis. Dengan kertas bertuliskan ‘Aku tahu kamu butuh ini. Penggemar rahasia Cintya.’ Hari ke-4 kado berisi ikatan rambut sederhana berwarna-warni. Terdapat kertas ketikan ‘Ikatan rambut bulu semakin membuat kamu panas, pakailah ini. Penggemar rahasia Cintya.’Hari ke-5 kado berisi kipas lipat plastik berwarna pink dan bunga pink, warna kesukaan Cintya. Kertas ketikan ‘Sesuai warna kesukaanmu. Penggemar rahasia Cintya’ Hari ke-6 hari ini. Semua kado misterius itu, Cintya simpan tetap di lokernya, sampai pada hari ini.
“Kado apa yang ada di lokermu?” tanya Irena penasaran.
“Hanya ada kertas ketikan dengan tulisan yang terkesan menggurui ‘Terimalah barang ini meski kau tidak tau dari siapa, tapi tetap berasal dari hati tulus dan jangan jadi orang sombong yang menyimpan saja kemudian membuang ini.’” Jawab Cintya gusar, dia tak suka diperintah, apalagi dengan orang yang misterius.
“La, itu menggurui, berarti seorang guru. Ketemu deh...” Kata Benzo.
“BENZOOOOO!!!! Cukup! Kita lagi serius nih..” kata Irena sedikit meninggi diakhir namun tetap meringis. Benzo diam sambil tersenyum diikuti Brian yang merubah raut muka serius menjadi santai setelah ucapan Benzo. “Cintya, ada orang memperhatikan kamu berlebihan sejak masuk ga?” tanya Brian.
“Emm, yang mencurigakan yah.. hmm, ada! Dhani selalu mohon duduk di sebelahku, Putra selalu membelikan aku minum, Joko menawarkan PRnya untukku dan Gilang, Ren... ” kata Cintya menghadap Irena. “Kalau di kelas, Gilang beberapa kali ketangkap basah melihatku, pas aku tanyai kenapa, dia jadi gagap.”
“Ah.. iya Gilang. Aku juga pernah melihat tatapan Gilang ke kamu aneh.”
            “Kalau yang menyebalkan bagimu?” tanya Brian.
            “Aku tidak suka dengan sikap Dhani yang seperti itu, risih dengan Gilang. Untuk kaum hawa, Jessie sukanya menyindir, Dewi sering menatapku sinis.”
Benzo menganggukan kepala, seakan mengerti semuanya terjadi. “Aku tak terkejut, karena kalau aku perempuan, perempuan mana yang tidak iri dengan kecantikan dan kepintaran kamu, Cintya. Ditambah banyak cowok mengantri, mau itu kakak kelas atau seangkatan.”
            “Kamu memang perempuan. Aku tidak iri, aku malah senang.” Ejek Irena.
            “Karena kamu bukan perempuan, kamu cowok rupa cewek.” Balas Benzo.
            “Dugaanku...” ucap Brian ragu. “Dilihat dari polanya, orang itu adalah orang yang leluasa keluar kelas meski pelajaran. Karena meskipun dihari pertama, persiapannya cukup matang. Tidak mungkin kalau dia mencetak kertas itu sebelum bertemu denganmu. Berarti dia punya akses dengan komputer dan print sekolah. Benar menurutmu, Cintya, orang itu pasti disekitarmu, karena dia dengan mudah mengetahui apa yang kamu butuhkan dan sukai.”            “Dia cerdik.” Kata Benzo menambah-nambah sesuatu yang kita semua sudah tau. Kembali berhasil membuat semua meringis.
            “Lama-lama, jika kamu tetap diam dan tidak menggunakan kado itu, ini pasti akan menjadi ancaman atau teror. Terlihat dari pesannya dan yang terakhir. Dia orang yang gampang menyuruh orang.”
            “Brian benar juga, kalau begitu lingkup tersangka adalah ketua-ketua organisasi sekolah. Mereka terbiasa memerintah orang lain, jika perlu mengancam dengan jabatan. Dari semua tersangka, mereka semua mempunyai akses komputer sekolah. Dari ketua MPK, ketua OSIS, ketua Ekskul....Tunggu, dari semua orang dekat Cintya. Dhani adalah ketua MPK. Putra anggota OSIS dan bukan ketua. Joko adalah ketua kelas. Kalau Gilang, dia sangat pemalu dan tidak mengikuti organisasi.” Kata Irena menjelaskan. “Ada yang terlewatkan, anak penjaga ruang komputer seangkatan dengan kita. Mungkinkah dia terlibat? Kunci ayahnya dia pinjam lalu masuk untuk akses komputer dan printer.” Irena menduga-duga.
            Brian meluncur lincah saat kebetulan penjaga ruang komputer lewat tak jauh dari tempat diskusi. “Siang, Pak, bolehkah aku meminjam kunci ruang komputer? Sepertinya dompetku tertinggal disana saat tadi pelajaran sebelum istirahat.” Tanya Brian dan terlihat amat nyata.
Penjaga ruang komputer kebingungan. Terlihat mencari-cari tapi tak membuahkan hasil. “Oh, kuncinya tidak pada saya. Kenal Gilang? Dia anak saya, kuncinya ada padanya.”
“Oh..Gilang yang terkadang gagap bukan?”
“Benar, nak. Dari kecil, saat merasa tertekan, terusik atau resah pasti menjadi gagap. ”
Brian melanjutkan penyelidikan. Dia mencari Gilang untuk langsung menangkapnya. Sedangkan Irena, Benzo, dan Cintya mengamati dari kejauhan. Bersamaan dengan Gilang yang tertelan siswa lain yang sedang berlalu lalang sangat ramai, Irena menyadari sesuatu saat memegang pesan ketikan itu.
***
“Lang, kalau kamu menyukai cewek, kado apa yang akan kamu berikan?”
“Brian! Pertanyaan apa ini? Aku tak akan memberikan kado, punya uang saja tidak.”
“Hah?” Brian terkejut kerena pancingannya malah tak berhasil. “Ya sudah, kunci ruang komputer ada padamu?”
“Tidak. Kuncinya ada pada sekretaris OSIS, itu sejak sebelum bazar.”
***
“Pelakunya adalah anggota OSIS. Karena format tulisannya sama dengan tulisan pada stand bazar kemarin. Ingatkan? Ketua OSIS adalah Dewi, bukan dia. Sekretaris OSIS, kemungkinan dia yang membuat tulisan di stand bazar. Tersangka kedua, Putra. Karena kebiasaannya yang selalu memberi padamu.Itu bisa menjadi naluri kebiasaannya.”
Brian datang membawa kertas daftar jabatan dalam OSIS. Tertuliskan bahwa Sekretaris OSIS adalah Putra.
***
Dari semua kasus BENCI, semua seputar cinta. Kasus ke-2, tentang cinta gadis pada cowok kepribadian ganda. Setelah diselidiki ternyata, cowok itu kembar dan yang terjadi adalah cinta segitiga. Kasus ke-3, telah selesai dengan penggemar rahasian Cintya, kini berubah menjadi penggemar rahasia Benzo, yang ternyata adalah guru genit yang sering mendekati Benzo. Setelah diselidiki, ternyata dia suka cowok humoris. Hingga kini, kasus ke-123. Entah ketidaksengajaan, kebetulan, atau takdir, semua sama seperti setiap kasus yang BENCI hadapi akan tetap menjadi ‘ketidaksengajaan.’

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bahasa Daerah Dayak

Pidato bertema Global Warming

CERITA PENDEK