Cerpen


Harapan Diatas Impian
Bagaimana jika impianku malah menjadi suatu mimpi buruk? Mungkinkah kemustahilan itu terjadi? Itu mungkin dalam hidupku, karna itu sungguh terjadi. Yang awalnya aku pikir impian itu hanyalah bayangan semu belaka, tapi ternyata aku salah besar. Bagiku  harapan adalah satu level diatas impian. Dan ini adalah harapan diatas impian dalam kehidupanku.
***
3 tahun silam.
“Clora, apa kamu tau cinta?”
“Cinta? Tidak dan tak ingin tau, pacaran saja aku tidak pernah.”
“Masa kamu sudah memasuki bangku SMA dan belum pernah pacaran? Sangat cupu kamu...” Lauren memutar jempolnya menghadap bawah. “Kata orang, masa SMA itu masa paling indah. Cobalah mencari pacar.” Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tak punya waktu untuk itu. Aku harus belajar demi mendapat beasiswa kedokteran. Itu saja impian yang aku inginkan–lebih tepatnya keinginan orang tuaku. Impianku adalah mewujudkan kebahagiaan mereka. Tiba-tiba orang asing memasuki kelas. Aku langsung terpikat aura yang terpancar, dia tinggi, berambut pirang dan bermata biru. Beberapa menit yang lalu aku membuat impian dan saat ini impian lainnya muncul. Aku ingin berpacaran–dengan dia. “Hello! My name is James. What is your name?” seperti mimpi baru saja berpikir tentangnya, kini sudah berada tepat disebelah meja.
“Me? Hello! You can call me Clora.” Dia berbicara denganku, tanganku terasa lembap karena pompaan jantung yang begitu cepat.
“Beautiful.” Aku merasakan mukaku berubah merah. “I mean your name.” Lauren, sahabatku sejak di SD berbisik lirih padaku jangan baper sama murid baru bule itu. Tak hanya perkenalan singkat, tapi kami bertiga menjadi sahabat. Aku dan Lauren membantu James beradaptasi di Indonesia, dia keturunan Inggris itulah mengapa aksennya begitu kental. Kita menghabiskan waktu bersama bahkan belajar bersama. Kebersamaan itu membuat cinta ini tumbuh begitu besarnya. Tapi aku belajar bahwa cinta tak hanya indah tapi juga menyakitkan.
Lauren diam-diam menaruh hati pada James. Terlihat dari tingkah dan rencana malam minggunya, aku tersingkirkan seperti pemulung di kota metropolitan. Memungut serpihan hati yang berceceran, impianku direnggut sahabat terbaikku. Kini aku sendiri, bertekat mewujudkan impianku sendiri, itulah mengapa banyak yang mengatakan keluarga yang paling berharga, karna keluarga tak akan menghianatimu. Semula aku dan Lauren sangat akrab berubah seperti orang tak saling kenal, melihat sajapun tidak. Impianku sudah didepan mata, kelulusan SMA sebentar lagi, dengan nilaiku aku mengikuti SNMPTN. Hasilnya tak seperti dugaanku, aku gagal lagi. Impian demi impian terus gagal, apakah aku seharusnya tak membuat harapan-harapan semu ini?
 Sinar harapan itu datang sendirinya dalam bentuk sepucuk surat. Surat Beasiswa UNIVERSITAS SWASTA INDONESIA datang menuju rumahku belum lama setelah impianku sirna. Jurusan beasiswa ini adalah DKV, jurusan yang sedang trend baru-baru ini yakni Desain Komunikasi Visual. Bayanganku langsung terbawa masa-masa kecilku saat aku baru mengenal pensil, penghapus, dan secarik kertas. Aku menggoreskan pensil itu seirama bunga berguguran. Hanya pohon dan bunga yang aku gambar pertama kali. Aku juga ingat bagaimana aku menggambar orang pertama kali, mirip seperti diriku, dia adalah ibuku. Aku menaruh harapan pada jurusan DKV, namun ayahku menolak sekeras-kerasnya.
“Clora! Mau jadi apa kamu? Pelukis kere?”
“Ayah, Clora bisa menjadi seniman yang menggunakan kreatifitasnya menciptakan seni dan bernilai tinggi, bisa dalam bentuk lukisan maupun sinematografi. Ini menjanjikan ayah...” kataku membela diri.
“Tidak. Kamu harus menjadi dokter. Dokter itu pekerjaan mulia, kamu pintar dan bisa menjadi dokter yang sempurna.”
“Ayah, kesempurnaan itu hanya milik-Nya, hanya milik yang diatas.”
“Pokoknya, kamu kuliah kedokteran atau kamu berakhir di dapur juragan kapal.” Aku tak bisa berkutik. Dibanding aku menikahi orang yang berumur jauh diatasku lebih baik aku kuliah kedokteran. Aku bisa mencoba jalur SBMPTN, kali ini aku tak boleh gagal. Aku mengikuti bimbingan belajar demi masuk SBMPTN, tak cukup hanya itu aku mengunjungi perpustakaan daerah untuk mencari referensi. Aku putuskan kali ini tidak boleh gagal, impian ayahku harus aku raih, aku yakin kerja keras ini akan membuahkan hasil yang manis.
Saat tahu aku masuk SBMPTN jurusan kedokteran aku merasa hatiku beku. Apa ini? Bukankah seharusnya aku riang gembira? Ada apa dengan diriku ini yang begitu bodoh, inilah hasil kerja kerasmu tidur hanya 3-4 jam sehari, menghafal ini itu segala macam. Tapi aku tidak bahagia. Ketidakbahagiaan itu terus berlanjut sampai aku kuliah, di kuliahan ini seperti neraka dalam diriku. Aku terbujur kaku didepan mayat-mayat yang sama kakunya denganku. Mereka putih, tak bernapas dan beraroma khas busuk. Isi perutku serasa berputar-putar ingin keluar dan saat pembedahan dimulai, yang aku lihat adalah gelap. Semakin gelap dan hilang.
Saat terbangun aku berada di ruangan serba putih, apa aku sudah mati. Oh muncullah dokter, terlihat dari jubah dan tanda pengenalnya. “Kamu sudah sadar, Clora? Kamu mengidap hemophobia, kamu takut melihat darah.”
“Bagaimana ini?”
“Kamu bisa menjalani terapi, bisa psikoterapi atau hipnoterapi namun dalam waktu cukup lama.” Aku menitikkan air mata, akan seberapa lama lagi aku sekolah jika harus menjalani terapi juga. Sekolah kedokteran itukan tidaklah sebentar. Air mataku mengalir di wajah pucat pasi seperti mayat tadi di ruangnya. Aku tidak sanggup, apa ini karena.. kecelakaan mobil beruntun sekejap terjadi di depan hadapanku saat akan berangkat sekolah. Tinggiku baru satu meter mengenakan seragam merah putih. Asap dari kendaraan mengepul, percikan apipun terlihat, ledakan dahsyat terjadi. Yang aku lihat merah dan hanya merah, tak hanya mobil merah, tapi darah mengalir di jalanan. Aku takut akan darah. Impian kedua orang tuaku tak dapat aku raih. Aku lelah memiliki impian yang selalu tak berpihak padaku. Dari kejadian ini, mimpi buruk terus menghantuiku. Impianku menjadi mimpi burukku.
Aku melangkahkan langkah keputusasaan menuju rumah sakit. Berharap pelajaran hari ini tidak berhubungan langsung dengan darah. Kepalaku terus tertunduk seperti ruas tulang leherku tak sanggup mengangkat berat kepalaku. Aku malu menjadi dokter takut darah. Setiap hari aku memikirkan untuk beralih jurusan tapi semua sia-sia tidak mungkin ayah menyetujuinya, ayah terobsesi dengan gelar dr. Aku tersadar karna riuh kerumunan di ujung trotoar, aku sedikit penasaran dengan menolehnya, terlihat seseorang tergeletak di depan trotoar.
“Apakah ada dokter atau semacamnya sekitar sini?” mendengar kata dokter, badanku terasa terseret medan magnet.
“Saya sedang kuliah kedokteran. Apa yang terjadi dengannya?”
“Pemuda ini menaiki motor, tiba-tiba saya melihatnya tidak seimbang dan terus mengarah ke ujung trotoar ini. Motornya ambruk dan dia tidak sadaran diri.”
“Sepertinya dia mengalami serangan jantung mendadak. Salah seorang tolong panggilkan 119 untuk memanggil ambulans.” kataku pada kerumunan itu, kemudian langsung mengecek pemuda yang tak sadarkan diri. Astaga, baru kemarin aku diajarkan Cardiopulmonary Resuscitation atau CPR tapi hari ini aku sudah mengalami situasi yang menuntutku untuk mempraktekannya secara langsung, sekarang juga, jika tidak entah apa yang terjadi dengan pemuda ini. Langkah pertama pastikan pasien tidak sadarkan diri, kemudian tekan atau kompresi dada, dilanjutkan mendongakkan kepalanya, lalu angkat dagunya secara lembut untuk membuka saluran napas. Aku mohon bernafaslah dengan teratur, supaya langkah selanjutnya tidak diperlukan lagi. Oh tidak, pemuda ini belum bisa bernafas normal, langkah selanjutnya menjepit hidungnya, lalu tempatkan mulut ke mulutnya. Kerumunan itu terkejut akan apa yang aku lakukan, mereka tersenyum. Aku membalas tersenyum karena bunyi ambulans mulai terdengar.
Aku terduduk di depan ruang Unit Gawat Darurat. Sudah setengah jam aku tidak mengikuti pelajaran, aku terlalu memikirkan nasib pemuda itu, apakah aku menyelamatkannya atau malah memperburuk keadaannya. Yang aku tahu saat ini adalah percuma aku mengikuti pelajaran jika pikiranku selalu melayang ke pemuda itu. Hingga pemilik jubah putih itu keluar, dia melirik aku yang duduk putus asa. Oh tidak, ekspresi apa itu.
“Kamu yang membawa pemuda itu?”
“Iya, tak sengaja saya lewat, dok. Apakah terjadi sesuatu?”
“Saya dengar kamu yang melakukan CPR? Darimana kamu mempejarinya?”
“Maafkan saya, saya memang belum praktek langsung, maafkan kesalahan saya. Saya baru masuk kuliah kedokteran.”
“Tidak kok, tidak. Justru CPR kamu yang menyelamatkan pemuda itu. Terimakasih atas keberanian kamu, sepertinya kamu memiliki bakat menjadi dokter. Kamu tidak lanjut kuliah?” baru detik ini aku merasakah luapan bahagia atas usahaku sendiri. Kini aku tahu mengapa aku tidak bahagia, semua impian itu bukanlah impianku, melainkan impian orang lain. Aku tidak pernah mengerti diriku seutuhnya tentang apa yang diriku sukai dan impikan. Itulah alasan mengapa impianku tak pernah terwujud, itu bukanlah impianku sesungguhnya.
“Apakah pemuda itu sudah sadar? Aku ingin menemuinya sebentar. ”
“Silahkan, dia sudah siuman di dalam.”
Aku melangkahkan kaki ragu-ragu masuk ruang Unit Gawat Darurat. Pemuda itu tampak lemas bersandar di atas kasur putih itu.
“Hai, apakah kau baik-baik saja?” tanyaku pada pemuda asing itu.
“Bahkan kamu tidak menanyakan namaku siapa. Tapi aku mau mengucapkan terimakasih padamu.”
“Lebih penting keadaanmu tahu. Aku juga mau berterimakasih.” Kataku membalasnya.
“Baru kali ini ada perempuan yang care padaku. Tapi terimakasih untuk apa?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, sudah balik tanya saja.”
“Aku baik-baik saja. Kenapa kamu berterimakasih padaku?”
“Aku berterimakasih karena berkat menolongmu aku bisa sadar  tentang impianku. Selama ini aku membodohi diriku sendiri yang melakukan impian orang lain.” Aku mengenalnya pagi ini. Dia pemuda ramah bernama Kevin yang kuliah jurusan management di Universitas yang sama denganku. Mengenai tidak ada perempuan yang care dengannya, itu karena dia piatu sejak kecil. Hidupnya hanya bersama ayahnya yang bahkan hingga sekarang masih sibuk dengan dunia bisnisnya dibanding dengan dia. Dia hanyalah pemuda kesepian.
Heart attack-mu karena abis diputusin pacar yah, apa kesepian?” ledekku setelah akrab dengannya.
“Kesepian tau,  siapa namamu tadi, Clora yah, temani aku ya..”
“Sahabatku dulu bertanya padaku apa itu cinta. Apakah kamu tahu?”
“Aku tahu, disaat ada orang yang dapat menerima seseorang apa adanya, itulah yang dinamakan cinta.”
 “Apa kamu sudah menemukan cintamu?”
“Belum, cinta sejati itu sulit, sama seperti kuliah. Hahaha.. yang ada aku dikhianati perempuan yang sudah aku berikan segalanya. Hartaku, hatiku, dan harapanku.”
“Hahahah.. tak jauh berbeda denganku.”
“Aku sih sudah tau kalau kamu, kamu sih terlalu baik sama orang.” Ejek Kevin.
“Kamu tau, aku punya rahasia, ingin dengar?”
“Tidak tertarik. Paling yang berhubungan dengan mayat, kamu salah menyuntikan dosis formalin yaa, atau kamu beli mayat ilegal.” Kevin kembali mengejekku, sifat ini bukan membuat aku naik pitam tapi justru membuat suasana menyenangkan.
“Ini lebih menakjubkan dari itu. Sinih aku bisikan.”
“Kamu modus dekat-dekat aku yaa, atau mau mencium pipiku diam-diam.”
“Dasar ganjen. Ya sudah kalau tidak mau.” Lagakku jual mahal.
“Oke-oke apa sih.” Kevin mendekatkan telinganya ke bibirku.
Aku membisikkannya dengan lembut. “Aku calon dokter yang takut darah.” Kevin menahan tawanya. “Sudah, tertawa saja. Aku tak masalah kok, aku tau itu memalukan. Tapi aku tahu impianku saat ini. Impian pertamaku menghilangkan hemophobia ini dan menjadi dokter tulen.” Mata kevin terbelalak. “Tidak usah terheran begitu.” Ejekku pada ekspresinya yang aneh. Wajah kevin berubah muram dan tertunduk. “Ada apa? Apa kata-kataku ada yang salah dan membuatmu sakit hati?” Kevin malah menatapku lekat-lekat. Kevin membuka mulutnya ragu-ragu. “Apa ada yang sakit? Jantungmu sakit?”
“Hahahahah..” Kevin tertawa cukup keras, aku melihatnya keheranan. “Kamu lucu Clora kalau sedang khawatir.” Aku langsung cemberut begitu tahu aku dipermainkan. “Jangan cemberut gitu dong, kamu jadi ga cantik lagi. Maaf ya hanya bercanda. Tapi aku salut padamu. Kamu tahu, aku sama sepertimu.” Muka cemberutku tergantikan muka bingung. “Aku sama sepertimu, hemophobia.” Hari ini, entah bagaimana aku langsung dekat dengan satu orang dihadapanku. Aku memang salah bolos kuliah pada hari ini, tapi ada yang lebih penting yaitu aku mengetahui impian diriku sesungguhnya. Rasanya aku ingin meminta maaf pada diriku sendiri karena tidak pernah mempercayakan impianku sendiri. Aku selalu menggunakan impian orang lain yang bukalah keinginanku. Yang aku pahami sekarang adalah menjadi mahasiswa kedokteran adalah impian, menjadi seorang dokter adalah cita-cita dan menjadi seorang dokter profesional adalah harapan. Bagiku harapan adalah satu level diatas impian. Dan seperti itulah aku bisa menemukan impianku sesungguhnya dan berharap semua akan terwujud.
TAMAT

 Akun ig : lindafebriana_252. Quotes tentang impian : Impian memang benar adalah bayangan semu, tapi itu terjadi bila tidak digapai. Maka bayangkalah bila kamu menggapainya, kamu bisa memiliki apa yang semua orang pikir adalah kemustahilan.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bahasa Daerah Dayak

Pidato bertema Global Warming

CERITA PENDEK