Cerpen Menangkis Perih
Linda Febriana
Purwanto_Menangkis Perih
I have a
dream, a song to sing. To help me cope with anything. If you see the wonder of
a fairy tale. You can take the future even if you fail. I believe in angels. Something
good in everything I see. I believe in angels. When I know the time is right
for me, I’ll cross the stream. Alunan lagu
Westlife yang sedang naik daun kala itu terus terngiang. Tahun 90-an, Tri hanya
anak kuliahan biasa yang menyambi bekerja demi membayar kuliah. Kedua orang tua
Tri bisa dikatakan hidup secukupnya, namun akibat dari pepatah orang jaman
dahulu banyak anak banyak rejeki, hal itulah yang memberatkan keluarga. Tri
adalah anak ketiga dari 5 bersaudara, inilah asal muasal nama Tri.
Sejak kecil Tri dibesarkan di Kota Cilacap,
tepatnya diujung Pulau Jawa dan sangat dekat dengan Pulau Nusakambangan. Tri dikenal
pribadi yang pemalu, memang benar dilihat dari tak banyak relasi, tak banyak
teman bahkan pacar. Mantan saja sebanyak
hitungan jari. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang kelontong dan harus
membiayai 5 anak yang kuliah di luar kota. Tak berhenti disitu, ibunda Tri
terkena hipertensi, serangan jantung dan meninggal dunia membuatnya harus
membiayai kuliah secara mandiri. Tri bersyukur mendapatkan tempat kerja yang
bisa dikatakan tidak padat untuk anak kuliahan, Tri bekerja sebagai akuntan
sesuai dengan jurusannya akuntansi.
Cinta Itu Buta.
Kehidupan percintaan Tri dimulai sejak kuliah,
meski sudah 10 tahun menjalin hubungan asmara, semua itu kandas sebelum
berjalan ke pelaminan. Hal itu terjadi lantaran setelah lulus kuliah keduanya
bekerja berbeda kota alias Long Distance Relationship. Setelah putus cinta, Tri
kembali menemukan benih-benih asmara di dunia kerja. Namun sayang, kali ini
berbeda kepercayaan agama. Tapi, cinta itu tidak memandang ras, suku, atau
agama bahkan materi bukan? Cinta itu buta, iyakan? Hal ini membuat tekad Tri
memperjuangkan cintanya lebih besar. Seluruh keluarga besar tidak menyetujui
hubungan mereka berdua, apalagi yang usia pacarannya masih seumur jagung tapi
sudah ingin menikah. Namun nasi telah menjadi bubur, Tri terlanjut jatuh cinta
dan memegang keputusannya erat-erat.
Mereka berdua menikah dan mengasingkan diri ke
kota Bandung, letak kantor mereka berdua berada. Setelah menikah, mereka tidak
terburu-buru memiliki seorang anak. Tri belajar dari keluarganya bahwa saat
ingin membangun rumah, pastikan pondasi yang kuat agar rumah tidak mudah
runtuh. Hal itu diterapkan dengan mengejar kerjaan, hunian, dan tunjangan layak
barulah mereka memiliki anak. Hingga setahun kemudian, mereka telah mengontrak
di Perumahan Taman Kopo Indah dan berbahagialah mereka dengan kelahiran anak
perempuan pertama mereka bernama Olivia. Empat tahun setelahnya muncullah anak
kedua yang berjenis kelamin laki-laki bernama Yohanes. Lengkaplah mereka dan
hidup bahagia meski Tri dikucilkan dari keluarga besarnya karena jalan hidup
yang dipilihnya.
Suami Tak Tahu
Diri.
Tanda tanya mulai muncul dalam benak Tri karena
perubahan sifat suaminya. Kini suaminya menjadi egois dalam segala hal. Suatu
hari, Tri kelupaan menjeput putri sulungnya Olivia di sekolah. Tri berinisiatif meminta
bantuan suaminya untuk menjemput anak mereka, namun yang didapatnya malah caci
makian dengan alasan menjadi ibu yang tidak terpuji, tidak sayang anak dan
segala macam kata-kata kasar tertuju padanya. Padahal manusia itu pernah salah,
lupa atau semacamnya.
Hingga suatu hari, disaat Tri hendak mencari
bolpen di dalam tas suaminya. Bolpen dia temui namun benda asing aneh juga
ditemuinya–diapun
memanggil suaminya.
“Ini apa?”
Suami Tri masih saja diam.
“Ini bukan milikku, jadi ini pakaian dalam
siapa?”
“Khilaf.. aku khilaf ..Maaf.” Tri tak habis
pikir. Bagaimana lelaki yang dia perjuangkan sambil seluruh keluarga Tri
mengucilkannya malah berbuat tak senonoh. Suaminya ketahuan selingkuh. Pikiran
Tri langsung teringat saat suamiya meminta uang untuk menginap di hotel saat
tempat kerjaannya menuntut suami Tri meninap di kota Bogor untuk acara pameran
kantor. Apakah saat itu mereka berselingkuh. Atau semenjak diminta tolong
menjemput Olivia yang marah-marah. Apakah saat bekerja mereka malah
berselingkuh? Perihnya hati membuat pikiran Tri kalang kabut.
Sudah 3 hari Tri mendekam dalam kamarnya, tak
bekerja, tak keluar kamar, hanya tiduran dengan kantung mata yang terdapat
genangan air mata. Hidupnya sudah hancur berceceran seperti hatinya yang remuk
menyisakan serpihan perih. Sudah diputuskan rumah untuk suaminya, sedangkan dia
dan anak-anak pulang kampung kembali ke kota Cilacap, kota kelahirannya.
Disinilah Tri merasakan dia sudah jatuh tertimpa tangga. Sesudah dikucilkan
keluarga lantaran tidak direntui, kini Tri harus kembali pada keluarganya
karena tak ada tumpuannya berpijak. Inilah saat sulit dalam hidup Tri. Bangkit
dari hati yang hancur kembali dalam suasana tabu. Saat inilah Tri merasa
pilihan hidup yang dipilihnya sungguh salah. Seharusnya dia mendengarkan kata
kedua orang tuanya yang tidak setuju akan hubungan pernikahan ini. Restu orang
tua sungguh luar biasa.
Bangkit Berkat
Malaikat.
I have a
dream, a song to sing. To help me cope with anything. If you see the wonder of
a fairy tale. You can take the future even if you fail. I believe in angels. Kini malaikat Tri adalah kedua anaknya. Tri harus
bangkit demi mereka. Tri akan melupakan suaminya, dan hanya mengingat anaknya. Titik
balik Tri adalah memulai perubahan mulai dari nol. Dia memulai membuka usaha
toko kecil-kecilan di Kota Cilacap. Suaminya yang jera tetap teguh ingin
mengikutinya pindah ke Cilacap. Mereka bersama menerima hinaan dan pengucilan
keluarga. Untungnya, hal itu tak berangsur lama. Mau bagaimanapun keluara tetap
akan menjadi keluarga, bukan? Meniti karir dimulai dari belanja ke Bandung dan
Jakarta untuk memasok barang. Kemudian barang itu dijual kembali plus laba
penjualan. Toko tas yang dibuka kecil-kecilan mulai memiliki nama. Namun roda
keperluan hidupnya masih saja tidak cukup. Besar pasak dibanding tiangnya.
Banyak barang rusak dan tidak laku. Pembelipun banyak melontarkan komentarnya.
“Mahal sekali sih..” “Padahal barangnya kurang bagus, tapi harga selangit.”
“Mas, kalau begini terus merugi kita bisa
bangkrut..”
“Terus aku harus apa?”
“Cari uanglah, kamukan kepala keluarganya.”
Sering kali Tri dan suami bertengkar. Tri
menganjurkan suamiya untuk keliling menitipkan barang pada toko-toko kecil
lainnya. Namun lantaran sang suami tidak memiliki keahlian khusus, dahulu da
hanya menjaga gudang, tidak bisa menjadi sales. Maka dengan berat hati anjuran
Tri tak ada gunanya. Hingga tercitalah keputusan lain.
“Kamu mau cerai.. ya sudah” kata suami Tri.
“Loh bukan begitu loh, kamu kepala keluarga harus
melaksanakan kewajiban. Cari kerja lain atau apalah, usaha demi mendapat
penghasilan.” Tak jarang mereka berseteru di depan anaknya. Tapi anaknya yang
sulung selalu mengingatkannya. “Bu, jangan cerai. Mau jadi apa kita, semakin
dipandang rendah dan hina, jika keluarga kita lebih berantakan dari sekarang.
Kasihan Yohanes, dia sempat bercerita pada Kakak kalau dia malu jika saja
ditanya tentang bapak dan kalau keluarganya bercerai.” Malaikat seperti memberi
Tri kekuatan untuk bangkit dan tegar menghadapi setiap masalah rumah tangga.
Tak lupa semua pergumulan hidupnya diserahkan pada Tuhan yang Maha Tahu. Tri
percaya rencana Tuhan adalah yang terindah dalam hidupnya. Jalan terang kembali
terlihat. Suami Tri melamar pekerjaan dan diterima, namun di Kota Bandung.
Terpaksa suami pisah dengan anak dan istri untuk bekerja di Bnadung. Hanya
setahun sekali suami pulang untuk menengok anak dan istri yaitu saat lebaran.
Tapi akhir bahagia masih belum diraih.
Kembali Jatuh
untuk Kedua Kalinya.
I believe in
angels. Something good in everything I see. I believe in angels. When I know
the time is right for me, I’ll cross the stream.Toko tas Tri mulai merosot. Rugi menjulang
tinggi. Toko semakin sepi pembeli, pemasukan sehari sering kosong. Tabungan di
bank dari bekerja di Bandung kian menurun drastis. Sampai habislah simpanan
uang. Toko tak bisa diharapkan kembali. Tapi Tri tidak larut dalam
keputusasaan. Tri kembali berjuang beralih fungsikan tokonya. Tri memiliki
keahlian lain yang bisa dibilang termasuk unggul dalam hal kreatifitas. Maka
mulai diubahlah Toko Tas Tri menjadi Toko Kerajinan Tangan. Tri juga gemar
dalam bidang kerajinan, inilah yang membuat dirinya bahagia didalam hidup yang
diduga telah hancur tanpa ada harapan. Ternyata passion Tri yang
menyelamatkannya. Sudah sejak sekolah di SMA Tri suka membuat kerajinan tangan
dan menjualnya kepada teman-teman. Berkat hal itulah kini kebutuhan hidupnya
bisa berputar dengan baik. Suami juga mendapatkan penghasilan tetap setiap
bulannya. Uang mulai terkumpul dengan transferan dari suami.
Butir - Butir
Kehidupan
Benar adanya cinta itu dibutuhkan. Namun, apakah
kalian bisa hidup hanya dengan cinta? Apakah cinta bisa menghidupimu? Semua
butuh kematangan sebelum bertindak. Apakah kehidupan sudah dikatakan layak
untuk membangun rumah tangga. Karna saat salah melangkah, kapal kehidupan akan
terombang ambing bersiap-siap tenggelam dalam palung laut. Pondasi yang kuat
juga dibutuhkan saat membanun rumah. Agak kehidupan rumah tangga kekal abadi,
tidak hancur hanya dalam jangka waktu 5-7 tahun saja. Memilih pendamping hidup
tidaklah sulit namun jangan sampai dianggap remeh. Setiap pilihan hidup harus
ditanggapi dengan serius janganlah sesuka hati, apalagi bila kedua orang tua
tidak menyetujui. Berbaktilah pada kedua orang tua yang tak pernah jemu merawat
dan melindungi sepenuh hati. Anak adalah titipan Sang Maha Kuasa, anak juga
yang sering kali merubah hidup orang tua. Orang tua bisa lebih dewasa dengan
kehadiran anak. Anak pun membantu orang tua tanpa pernah pamrih, sebagai
sahabat sekaligus teman curhat. Menghadapi masalah selalu dengan kepala dingin
dan terpenting adalah menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Pertengkaran,
keputusasaan itu tidak ada gunanya, semua hanya membuat diri semakin
terjerembap dalam lumpur yang hidup. Gagal itu biasa, berhasil yang luar biasa.
Pernah yang mengalami gagal, itu adalah tiket menuju keberhasilan. Meski
berjatuh berkali-kali, Tri tetap mencari jalan keluar dengan mandiri, tidak
lagi bergantung pada manusia melainkan pada Sang Empunya Kehidupan.
Instagram: lindafebriana_252
Komentar
Posting Komentar