Cerpen
Cita Rasa Cinta
I
can see. Yang bisa aku lakukan pun hanya diam merasakan. Merasakan semua
tarikan kharismanya. Saat dia duduk, melamun, berlari, dan tertawa. Yang
kulakukan hanya terpaku menatapnya. Merasakan sensasi senang untuk hanya diriku
seorang. Aku tak pernah mengucapkan sepatah katapun dengannya. Aku tak pernah
di dekatnya apalagi menyentuhnya. Dia yang selalu datang dalam mimpi indahku.
Aku hanya bisa melihatnya, dan terus melihatnya. Hingga dia harus pergi dan
meninggalkanku. Dia tidak pernah tau apa yang aku rasakan. Rasa ini selalu
terpendam jauh kedalam. Ini kisah bagai pungguk merindukan bulan. Yang selalu
menunggu dan menanti namun semuanya sia-sia belaka. Dan sama seperti yang aku
lakukan, hanya pasrah akan takdir yang begitu kejam.
“Hai,
Olivia.. Tadi malam jadi mimpiin aku?” kata Carias, teman sekelasku yang kocak,
gila, dan asik banget, dijamin tidak bakal bosen deh.
“Hai,
Carias, apasih yang kamu omongin.” Balasku.
“Alah
kamu, aku duduk di sebelahmu yah, bolehkan?”
“Emm..
Boleh ga yah..hehe” aku berusaha mencari jawaban menolaknya, namun semua itu
tak ada gunanya lagi setelah Carias menaruh tasnya persis di sebelah bangkuku
dan duduk di sampingku.
Carias,
satu kata buat dia, aneh. Kehidupannya sungguh aneh, namun itu yang membuatnya
asik dan unik. Dia laki-laki yang super modus, tapi sangat lemah lembut
terhadap perempuan. Dia menganggap semua teman perempuannya bagai saudarinya,
yang harus selalu dia lindungi. Jadi tidak salah jika dia dekat dengan banyak
perempuan. Tapi, disamping dia yang asik dan baik ada berjuta sifat yang
menjengkelkan. Salah satunya adalah jahil. Entah memakai karet, tipe x,
bolpoin, ataupun penghapus papan tulis. Semua nya dia rangkai menjadi bom
menyeramkan bagi korbannya. Dan kebanyakan korbannya adalah para perempuan,
mungkin kembali ke sifat aslinya yang super modus.
Tiba-tiba,
seorang laki-laki melintas di depanku. Langsung aku membuka mulut menyapanya.
“Hai
Mikhael, selamat pagi.” Mikhael tersenyum dan memalingkan wajahnya melihatku.
Dia langsung melambaikan tangan kanannya kepadaku.
Mikhael, dia laki-laki super cool yang pernah aku
temui. Dia sangat pendiam, begitu pula di media massa, sangat singkat
balasannya. Terkadang merasa jengkel sendiri terhadapnya, karena apa yang dia
ingin sampaikan terkadang sulit dipahami. Tapi itu tidak menutup sifat coolnya
yang memukau. Dia memiliki banyak sekali fans di sekolah, dan kebanyakan itu perempuan.
Tapi tetap saja, dia cuek kepada mereka semua. Dia juga tidak kalah dengan
Carias yang suka melindungi perempuan. Karena Mikhael lebih gentle kalau
terhadap perempuan. Dia sungguh mau berkorban terhadap sahabat perempuannya.
Suatu ketika, dia sudah membuat janji terhadap sahabat nya itu. Namun tiba-tiba
terjadi masalah di rumah dan dia tak bisa pergi bersama sahabatnya itu. Tapi
apa yang Mikhael lakukan? Dia mencari-cari alasan agar bisa keluar rumah dan
mengantar sahabatnya itu. Meskipun Mikhael tidak bisa ikut acara bersama
sahabatnya, tapi dia tetap mau mengantarkan sahabatnya itu. Dia berkorban demi
sahabatnya meskipun di situasi yang buruk sekalipun. Bukankan itu gentleman?
Dan bagaimana aku bisa tau kejadian itu? Karena sahabat perempuannya itu adalah
aku. Iya aku sahabat perempuannya. Orang yang merasakan betul bagaimana
pengorbanan tulus seorang laki-laki.
Ada satu yang terlewat, aku. Aku Olivia, perempuan
berambut panjang, berkaca mata, hobi membaca, dan suka banget sama yang namanya
coklat. Aku pelajar yang sungguh berusaha fokus pada pelajaran, tapi berakhir
tragis. Usaha itu tidak berjalan mulus, karena banyak sekali gangguan berbau
romantis. Banyak sekali, sampai ada penanganan serius yang harus dijalani. Dan
apa resiko terbesarnya? Ya, sudah pasti nilai yang merosot jatuh ke palung
terdalam di dasar laut. Disertai raungan keras dari dalam rimba, ya itu
pastinya nasihat dari orang tua. Dengan putus asa aku berusaha bangkit, dan aku
butuh itu. Iya aku butuh itu. Itu adalah cinta.
Setelah aku kembali pada masa kejayaan, setelah jatuh
ke dalam palung. Aku mulai mengumandangkan bahwa ‘Manusia tidak bisa hidup
tanpa CINTA’. Iyakan? Rasa bosan, jenuh, tertekan akan dialami jika kita tak
menerima cinta yang cukup. Seperti suatu ketika, disaat akhirnya papa yang
harus pergi bekerja di luar kota. Oughh, sungguh itu adalah masa-masa sulit,
dimana tidak mendapat cinta dan kasih sayang dari seorang ayah, ohh. Meskipun
aku masih bisa menghubungi papa kapan saja, tapi itu tetap saja berbeda dengan
bertemu langsung. Hingga aku terjatuh lagi, untungnya bukan ke dasar palung
yang gelap dan dalam lagi. Melainkan aku jatuh ke dalam jurang. Ohh, itu sama
saja, meskipun tidak segelap palung, tapi tetap saja sakit. Memakan waktu cukup
lama aku bisa kembali ke puncak. Tapi itu dapat kulalui berkat cinta dari yang
lainnya. Yang dapat mengobati cinta ku yang kurang. Cinta dari Tuhan, malaikat
Tuhan alias mama, adikku, dan sahabat-sahabatku yang tak bisa dihitung dengan
jari.
Berbeda jauh bila kita sungguh mendapatkan cinta yang
cukup atau bahkan lebih. Akan tumbuh rasa damai, suka cita, dan yang terpenting
rasa dimana kita ingin berbagi rasa bahagia kita. Ohh, itu sungguh keindahan
dunia. Jika dunia dipenuhi dengan cinta, pasti yang ada hanya damai, damai, dan
damai. Kita akan sungguh menikmati setiap detik kehidupan ini. Setiap langkahan
kaki akan kita resapi, mau itu manis atau pahit, pasti kita bisa melaluinya.
Meskipun kehidupan kita ini diibaratkan dengan roda berputar, kita pasti bisa
melewatinya. Sungguh menyenangkan hidup seperti itu. Namun sayang, masih banyak
kawan kita yang kekurangan cinta itu, salah satunya seperti, Adison.
Adison, dia laki-laki multi talent, apalagi bila itu
berbau seni. Dia adalah favoritku. Menyanyi, melukis, memainkan biola,
kaligrafi, dan lainnya. Dia sungguh berbakat dan mempesona. Namun sayang,
karena lingkungan tidak mendukung, Adison tumbuh menjadi anak yang egois dan
kurang bisa membaur. Sehingga dia dikucilkan dan dijauhi. Tapi berkat temannya
semua yang tulus menyayanginya. Temannya semua sepakat akan menerimanya dan
berusaha mengubahnya menjadi lebih baik. Akhirnya kini, Adison bisa bergabung
dengan semua orang. Terakhir aku mendengar kabarnya dia menemukan sahabat
sejatinya. Betapa mujarapnya obat cinta itu. Yang menangis dibuat tersenyum,
yang sakit menjadi sembuh, dan yang tertekan kini dapat menikmati hidup.
Suatu tempat dimana ada begitu banyak cinta dan juga
derita, yang lain dan bukan adalah sekolah. Kita banyak menemukan cinta disana.
Teman dengan teman. Sahabat dengan sahabat. Anak nakal dengan guru BK. Dan
masih banyak lagi, apalagi saat kita menemukan orang yang kita cintai. Itu
sudah lengkap. Tapi apakah ada deritanya? Ada. Apalagi disaat kita terlambat
masuk sekolah. Setelah selesai dihukum, lalu kembali ke kelas dan ternyata lupa
mengerjakan PR. Dapat hukuman lagi. Setelah selesai ternyata ulangan kemarin
mendapat nilai merah. Pulang sekolah, sampai rumah akan dapat hukuman lagi. Ohh
sungguh derita bukan? Tapi sadarkah kita kalau itu semua ulah siapa? Ulah kita
sendiri yang membuat semua masalah itu menjadi lebih besar. Coba saja jika
tidak tidur terlalu malam. Saat siang hari mengerjakan PR dan belajar bukannya
bermain PS.
Perjalanan pendidikanku di sekolah berjalan lancar
seiring berjalannya waktu. Hingga tibalah waktu ujian. Semua sungguh sibuk
mempersiapkan diri. Dan masalahnya, aku mendapat ganguan yang sungguh amat
berat. Dia yang mengusik pikiranku setiap aku belajar. Dia yang selalu hinggap
dalam mimpi indahku. Dia yang memperkenalkan aku pada musik. Dia bagai melodi
detak jantungku. Dia bak petikan gitar yang mengembalikan suasana hatiku yang
murung menjadi senang. Dia laksana bulan tersenyum di malam yang suram. Dia
adalah oksigen yang mengalir dalam aliran darahku. Dia seperti bunga indah di
depan rumah, yang selalu menyambut hariku dengan riang. Dia adalah Cahya.
Cahya selalu menemaniku disaatku sendiri. Dia orang
yang membuatku tegar meskipun lingkungan membuatku jatuh. Dia membangkitkan
semangatku, memberiku dorongan untuk terus maju menerpa badai lebat. Dia yang
menghadang setiap petir yang hendak menyambarku, dia benteng pelindungku.
Tujuannya setiap hari hanya membuat aku bahagia. Semua perkataannya,
perbuatannya tak lepas dari segaris senyuman di wajahku. Dan leluconnya tak
jauh dengan suara tawaku. Dia mentari pagi yang menuntunku menuju tujuan dan
bulan terang yang setia menemaniku di malam sulitku. Selalu datang tepat waktu,
disaat aku butuh pertolongan. Pengertian dalam situasi, perhatian dalam
kondisi, dan peka terhadap keadaanku. Dia sahabat sejatiku.
“Cahya, apa kamu tau,, aku menemukan laki-laki
idamanku sekarang.” kataku kepada Cahya di loteng atas sekolah.
“Oh, iya, laki-laki itu sungguh beruntung.”
“Mengapa beruntung??” tanyaku penasaran.
“Karena tak banyak laki-laki yang bisa masuk
kriteriamu. Dan dia beruntung bila bersama kamu. Kamu perempuan unik dan susah
menemukan yang seperti kamu lagi.” Jawab Cahya.
“Oh iya? Aku tidak berfikir begitu. Kamu tidak
bertanya siapa laki-laki itu?”
“Oliv, itukan privasi kamu, bukan kah tidak baik bila
aku mengetahuinya.” Kata Cahya, dan dibalas anggukan olehku. Laki-laki itu
adalah kamu, Cahya ucapku dalam hati.
Suatu hari, Cahya manyatakan perasaannya padaku, namun
apa dayaku, sudah tiba detik-detik ujian. Tinggal 1 bulan lagi ujian kelulusan.
Aku tidak bisa membuat hidupku tidak fokus. Sampai akhirnya aku menolaknya
dengan alasan aku ingin fokus belajar. Yang aku kerjakan hanya belajar,
belajar, dan belajar. Seiring waktu berjalan, aku tak sadar bahwa aku sudah
amat jauh dengan Cahya. Semua rutinitas yang sering dilakukan bersama kini
tinggal angan-angan. Semua tersimpan rapih hanya di memori.
Sampai setelah lulus, aku dan Cahya sudah tak pernah
bertatap muka apalagi berbincang-bincang. Bahkan satu kata sapaan pun tak
pernah terdengar ataupun terucap. Aku serasa orang asing bagi Cahya. Sama
halnya dengan diriku. Terkadang aku merasa ingin mendekat, namun aku berubah
pikiran karena berfikir bahwa itu tak ada gunanya. Malahan akan membuat semakin
canggung. Aku sering merasa kesepian. Seperti pungguk merindukan bulan. Tak tau
apa yang harus diperbuat terhadap keadaan. Kulalui hari-hariku yang sendiri dan
sepi. Tersiksa di siang hari dan merintih perih dimalam hari. Mimpi buruk akan
masa lalu datang mengetuk pintu kalbuku. Lunglai aku rasakan sepanjang waktu,
entah apa yang kulakukan, aku tidak pernah fokus. Selalu terbayang-bayang akan
masa lalu yang indah dan kini menjadi gundah. Kini, akupun mempertanyakan,
diakah sahabat sejatiku? Inikah yang dinamakan sahabat sejati? Suatu ikatan
yang tidak bisa dipatahkan, namun yang terjadi adalah sebaliknya.
Aku tahu ini adalah hujan, dimana kita di masa sulit
dan kelam. Dan aku percaya setelah hujan pasti akan muncul pelangi. Pelangi
yang amat indah melebihi apapun di dunia ini. Pelangi yang menghapus semua
kesedihan yang pernah dilalui. Dan akhirnya aku menemukan pelangiku, pelangi
hatiku. Aku percaya ini adalah pemberian Tuhan atas doaku. Setiap aku kesepian,
dia muncul dengan mengirim pesan kepadaku. Pesan yang selalu bisa mengembalikan
suasana hatiku. Dia selalu ada untukku. Disaat dan diwaktu yang tepat aku
membutuhkannya. Namun satu yang baru aku sadari akhir-akhir ini. Pelangi
tidaklah abadi. Pelangi hanya muncul sehabis hujan lalu menghilang begitu saja
diterpa awan yang melintas. Begitu pula dengan pelangi hatiku. Yang awalnya dia
memang sungguh-sungguh mencintaiku, ternyata semua itu salah. Andi biasa kusapa
dia. Ternyata dia memperlakukan semua perempuan semaunya. Mungkin memang benar
jika tampangnya menawan, tapi bukan berarti dengan begitu bisa mempermainkan
hati semaunya. Hatiku dicampakkan bagai boneka, mainan yang tak hidup dan bisa
dengan mudah ditinggalkan dimana saja. Andi datang dan pergi begitu saja. Andi
semakin membuatku jatuh terpuruk.
Aku tak berdaya. Aku sungguh lemah dan rapuh. Yang
bisa kukerjakan hanyalah berdiam diri, termenung bayangan kosong nan kalbu.
Insomnia mulai aku rasakan setiap malam sepiku. Aku seperti trauma untuk
memejamkan mata. Sebab setiap kali memejamkan mata, bayangan gelap dan kelam
itu selalu muncul. Muncul untuk menghantui dan mengusih batinku. Hatiku
tersiksa. Aku tersiksa, jasmani maupun batin. Aku tak berdaya untuk bangun dari
tidur. Tidur tak bisa, bangun pun tidak bisa. Aku bagaikan seonggok mayat yang
berjalan. Tanpa arah dan tujuan yang pasti. Tapi aku amat beruntung memiliki malaikat-malaikat
yang amat setia padaku. Setia disetiap lika-liku hidup ini. Saat senang maupun
saat sedih. Mereka selalu hadir disampingku, oh wahai sahabat. Mereka memberiku
kekuatan untuk bangkit kembali, setelah berulang kali terjatuh. Mereka menopang
dan menuntunku ke jalan yang benar. Aku bersyukur aku tidak berlari ke arah
yang negatif, seperti obat-obatan terlarang ataupun sekd bebas.
Akhirnya hidupku kembali seperti semula, sebelum semua
cerita asmara kelam ini terjadi. Kehidupan yang normal dan sedikit menjenuhkan.
Tapi untuk saat ini, yang aku butuhkan hanyalah situasi seperti sekarang.
Situasi yang aman dan tenang. Semua berjalan di rel yang seharusnya. Semua
berada di kontrolku. Untuk saat ini hanya itu yang aku butuhkan. Meski masih
ada sebaret luka menganga di hatiku. Tapi semua itu kubiarkan tetap seperti
itu. Aku bertekad untuk tidak mencicipi kisah asmara lagi. Meski aku tau,
hidupku sekarang amat membosankan. Tapi setidaknya ini lebih baik. Hidupku
hampa, tanpa gairah. Hidupku masih seperti seonggok mayat hidup. Yang
membuatnya berbeda hanyalah sekarang aku bisa menutupi luka kesedihanku dengan
segaris senyum muram terpaksa di bibir tipisku. Aku tau Tuhan mempunyai
rencana-Nya sendiri. Rencana indah sudah disiapkannya. Tinggal dapatkah kita mengikuti
jalan itu. Mengarungi setiap liku curam dan terjal. Dan tetap tegar berdiri
bagai batu karang. Selalu bangkit berdiri walau jatuh dan terperosok. Bisa
menikmati hidup yang hanya sekali ini. Hidup yang bisa dibilang sebentar,
karena kita tak tahu kapan ajal menjemput.
Bagaimana kita bisa melewati semua itu? Bagaimana kita
bisa menikmati hidup yang terkadang terasa berat dan menyiksa? Hanya satu
jawabannya. Bersyukur. Dengan kita bersyukur kita dapat melihat betapa indahnya
rencana Tuhan untuk kita. Dengan bersyukur, mata kita dibukakan
untuk melihat bahwa itu semua tidaklah sulit. Semua itu indah pada waktunya.
Ada saatnya dan waktunya nanti. Dan setiap masalah yang kita hadapi, akan
menjadi pembelajaran untuk kita tentang arti hidup yang sesungguhnya. Dan akhir
cerita seseorang yang kutemui dan bisa mengubah diri ini bukanlah semua
laki-laki yang kutemui. Bukan juga semua sahabatku. Bukan mereka semua,
melainkan diri kita sendiri. Yang bisa mengubah hidup ini hanya diri sendiri.
Bukan mereka yang disekeliling kita. Baik atau buruk. Terpuruk atau bangkit.
Sedih atau senang. Hitam atau putih. Optimis atau pesimis. Bersyukur atau
mengeluh. Semua ada ditangan kita. Semua pilihan tergantung diri sendiri.
Karena hidup adalah sebuah pilihan. Hidup seperti apa yang kau inginkan, semua
ada dikehendakmu. Semua ada dibawah kontrolmu. Dibawah kontrol dirimu sendiri.
untuk apapun pilihan hidup itu, semoga tidak menjadi penyesalan nantinya.
Melainkan sebuah kebanggaan besar bisa hidup di dunia ini. Yang bisa merubah
dan menentukan pilihan hidup kalian hanyalah DIRI
SENDIRI.
Komentar
Posting Komentar