Fiksi Mini Gunung


Anaphalis javanica
Oleh: Linda Febriana Purwanto

“Aku tahu ini sulit, tapi aku percaya kamu setia menungguku. Aku akan menepati janjiku.” Poppy mengangguk dan merekahkan senyumnya pada bibirnya yang imut.
“Itu tidak penting. Yang terpenting keselamatanmu Bam. Di gunung tidak ada perempuan cantik dan seksi, iyakan?” Pertanyaan Poppy membuat semua kru termasuk sobatku tertawa kecil. Pelukkanku dengan Poppy mengisyaratkan semua sudah siap dan ekspedisi bisa dimulai, kali ini gunung Leuser, jajaran Bukit barisan di Sumatra yang menjadi sasaran. Liputan panorama terbitnya sang surya dari ujung yang cukup tinggi ditambah keseruan petualangan ini juga akan di-upload ke channel Youtube milikku, kita travel vlogger.
2 hari telah berlalu, kami sampai pada ketinggian 2522 meter di atas permukaan laut dan ternyata ada yang cantik di gunung. Aku melihat bunga Anaphalis javanica atau bunga yang dipercaya melambangkan keabadian Edelweis karena bunga ini tidak mudah layu. Namun tak jauh dari bunga itu aku melihat perempuan berambut keriting, berkulit hitam dan pendek. Aku berusaha menepati janjiku dengan Poppy untuk memberikannya bunga Edelweis itu. Aku mendekatinya, tapi perempuan itu marah dan merubah badannya menjadi setengah hewan. Aku terkejut dan kehilangan keseimbangan, tepat disampingku terdapat tumbuhan menjalar, dahan itu aku raih supaya aku tak jatuh. Ternyata dahan itu tak cukup kuat, malahan dahan itu rusak dan terlepas dari tanaman induknya. Jantungku seperti mau keluar saat getah yang keluar dari putusan dahan itu berwarna merah darah. Aku berlari menjauhi segala hal aneh tersebut dan meninggalkan keindahan gunung, bunga Edelweis.
“Bam, bangun... Kita harus melanjutkan perjalanan.” Aku terbangun dengan badan berkeringat, padahal suhu udara sangat dingin, bahkan sobatku menggunakan baju lapis dua. “Ada apa Bam? Badanmu mengeluarkan keringat dingin, kamu sakit? Apa lebih baik kita turun dan tidak melanjutkan perjalanan ini.”
“Tidak Sobat, aku tak apa, hanya mimpi buruk.” Kita melanjutkan perjalanan.
“Bam, tahukah kamu mitos gunung itu dihuni oleh suku terasing yaitu Suku Mante. Tinggi mereka sekitar 140 cm, berkulit hitam, berambut keriting dan memakan keladi, buah, atau akar-akaran, tapi mereka tak benar ada, hanya mitos. Terlebih, kita harus berhati-hati” Sobatku mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik “Ada hantu yang sangat ganas, hantu Buburu. Tubuhnya setengah manusia setengah hewan rumahnya adalah tanaman rambat yang jika kita pangkas akan mengeluarkan darah berwarna darah.” Raut wajahku bertambah pucat.
  Salah satu kru berteriak, kami berlari mendekatinya. “Ada bunga Edelweis di sisi curam sebelah jurang.” Fotografer mulai merekam bunga tanda keabadian itu. Setelah cukup memotret, aku seperti terhipnotis pada aura bunga Edelweis yang mulai langka. Kita kembali menuju puncak sebelum matahari muncul dari ufuk timur, namun terdapat dua jalan setapak. Tanpa ragu kita memilih jalan ke hutan lepasbukan jalan di sebelah tebing penuh tanaman menjalar seperti sirih. Betapa indah karya Tuhan ini, kita mencapai puncak tepat sebelum matahari terbit. Keindahan ini akan kami siarkan dan bagikan ke seluruh dunia.
Saat turun, aku terpikirkan janji yang aku buat. Janji dibuat untuk ditepati. ‘Sial’ kataku dalam hati. Sulit sekali meraihnya.
“Bam, apa yang kamu lakukan disana? Tentu kamu tidak akan mencuri bunga Edelweis yang dilarang diambil itu kan?” Aku hanya diam dan langsung kembali pada jalur pulang. Sampailah kita pada pos penjaga. ‘Sial lagi. Ada pengecekan barang bawaan pada tiap tas milik kami.’ Gundah menyelimuti batinku.
“Kemarin ada anak muda yang mencuri Bunga Edelweis dan dia terkena tulahnya. Selalu kerasukan sampai akhirnya dikabarkan bunuh diri. Bukankah lebih indah membiarkan bunga abadi itu berada di tempatnya tumbuh. Sesungguhnya kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta abadi dari sebuket bunga abadi, melainkan keabadian berasal dari cinta sejati.” Kata petugas pemeriksa tas.
“Poppy maaf aku tak bisa menepati janjiku akan bunga abadi Edelweis, tapi sebagai gantinya akan aku berikan cinta tulus dariku yang abadi untukmu.”
“Kamu dalam keadaan selamat saja itu sudah cukup. Ingat itu, keselamatan adalah hal terpenting. Mitos bukan untuk dilanggar tapi sebagai pelajaran.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bahasa Daerah Dayak

Pidato bertema Global Warming

CERITA PENDEK