Cerpen Goresan Takdir
Goresan Takdir
Elsemit
berusia 17 tahun–kemampuan ini telah sia-sia selama itu. Rasanya semua itu
hanyalah khayalannya, tapi mengapa semua khayalan itu menjadi nyata? Bagaimana
bila takdir yang akan terjadi malah berubah? Atau salah dari yang diperkirakan?
Bagaimana bisa melihat takdir? Seperti melihat masa depan dari iris mata
coklatmu, wahai playboy.
***
Dimana
kamu jatuh? Tentu di tempat yang salah. Di hati yang salah bersama orang yang
salah. Di mana kelinci percobaan mengharapkan hati kelinci berdasi kupu-kupu.
“Hai,
Else!” suara lembut terdengar.
“Oh,
Hai Obaja!” Aku memalingkan wajah ke arah datangnya suara. Pikiranku beralih
kepada tangan hangat yang menggenggam tanganku. “Astaga! Sadarlah Else.” Kini
tanganku dipelupuk menutupi wajah merahku.
“Kamu
berkata apa Else?” Obaja mendekatiku dan berjalan beriringan di lorong sekolah.
“Tidak,
hanya berguman sendiri.” Jawabku singkat penuh kikuk. Keadaan lebih memburuk
saat tanganku disentuh tangan keras berotot nan hangat itu.
“Tanganmu
luka?” Obaja memperhatikan lukaku yang kian meneteskan cairan merah. “Karena
terpeleset dari tangga perpustakaan tadi?” Aku menganggukan kepala. Hari ini
korban bully jatuh undi padaku. Lagi. Selalu.
***
Kilatan
masa depan terlalu jelas dan membuatku ingin mengakhiri hidup. Loteng sekolah
yang sepi ini akhir perjalanan hidupku. Hamparan gedung pencakar langit seperti
memanggil diriku untuk menggapainya. Satu langkah lagi cukup. Air mataku
menetes perlahan, terbawa angin, sampai di aspal yang keras. Tempatku akan
singgah sebentar lagi. Jantungku berdetak tak beraturan dan aku melangkah...
“Else,
apa yang kamu lakukan!” bentak suara yang menyadarkanku. Selintas mataku
memandang Obaja di pintu loteng dan berjarak 5 meter dariku. Badanku terhempas
menjauhi pijakanku. Angin menyibak rambutku yang terurai panjang. Semua sudah
terjadi dan tak bisa kembali. Mataku terpejam dalam. Aku bertanya apakah ini
surga atau neraka? Aku merasakan
sesuatu. Ini keras. Tangan keras melingkar di perutku.Tubuhku berputar dan
terjatuh keras di bidang hangat. Tangan itu tetap melingkari tubuhku. Aku
membuka mata dan hanya biru gelap yang terlihat. “Syukurlah, hampir saja.”
Suara itu terdengar kelelahan. Kepalaku bersandar pada dada bidang Obaja.
“Apa
ini?!? Kenapa! Kenapa!” Aku berusaha bangkit. Hal ini sia-sia sampai Obaja
menarik bahuku ke belakang, tepat seperti semula.
“Diam
sesaat Else. Aku butuh bernafas.” Hening. Aku sangat terkejut dan seketika bisu
tak berkutik. Pikiranku berlari mencari penjelasan yang tepat sebelum ini
terjadi. Aku depresi. Aku memutuskan terjun dari loteng sekolah saat petang,
disaat hanya ada diriku seorang disini untuk terakhir kalinya melihat surya
bersarang. Aku sudah melihat jalan dan hendak jatuh sampai aku menoleh,
terkejut dengan bentakan, dan Obaja berdiri di ambang pintu loteng. Aku
terpejam dan tangan menarikku. Sebelumnya Obaja di pintu loteng. Beberapa detik
kemudian Obaja di pucuk loteng, meraih perutku dan terlentang bersama menghadap
langit. Keanehan ini tak bisa dijelaskan seperti kemampuanku. Mataku mulai
berkaca-kaca. Air mataku merebak keluar, amat deras, membasahi seragamnya.
Untuk sementara, dunia berhenti. “Keluarkan semua kesedihanmu. Cukup untuk saat
ini dan tidak untuk selanjutnya.” Obaja mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku
bangun, kini mataku sudah bengkak dan basah. Aku memeluk lututku yang terasa
kaku karena udara dingin. Obaja ikut terduduk di sampingku. Melihatku
lekat-lekat, dengan kehangatan penuh membuatku merasa tenang.
“Bagaimana
kamu melakukannya?” tanyaku memecahkan kesunyian menjelang malam.
“Melakukan
apa?”
“Berpindah
secepat kedipan mata.” Obaja enggan menceritakannya, sangat tampak jelas dari
wajahnya yang berpaling dari tatapanku.
“Ada
apa denganmu, sampai berbuat nekat, Else?” sama halnya dengan Obaja, aku pun
enggan menceritakannya. Hening. Suara jangkrik dari kebun sekolah terdengar
membuat keheningan sirna.
“Baiklah
aku akan menceritakannya.” Aku berharap dengan begitu Obaja akan bercerita
pula. “Aku bisa melihat masa depan. Tidak semua orang, tapi random. Suatu hari
tukang becak, hari berikutnya politisi yang hendak menerima suap, kemudian
kepala sekolah, dan yang membuatku hancur jika penglihatanku menyangkut
orang-orang dekatku. Aku sangat bahagia jika melihat takdir hidup mereka menggembirakan,
seperti mendapat penumpang lebih banyak dari biasanya, tidak jadi korupsi,
kepala sekolah yang mendapat kejutan ulang tahun di sekolah. Tapi sangat
menyiksa jika takdir itu mengerikan seperti...” aku tidak sanggup
melanjutkannya.
“Takdir
itu bisa berubah bukan?”
“Aku
sudah berusaha mengubahnya dengan membuat perubahan kecil, tapi aku tambah
mengacaukannya.” Wajah Obaja menyiratkan tanya. “Tengah malam ini, ayah akan menjemput ibu di kantor setelah
lembur. Di persimpangan Jalan Kelinci, akan ada kumpulan perompak darat yang
akan menghancurkan mobil mereka. Karena itu, tadi pagi aku membuat ban mobil
bocor untuk menghindarinya. Tapi sore tadi bayangan takdir kembali muncul dan
berubah menjadi lebih parah. Ayah dan Ibu mengendarai motor dan begal motor
tengah membuntuti kemudian menusuk mereka dengan keji. Membawa motor dan tas
berharga Ibu.” air mata kembali menetes kala bayangan mengerikan bersimbah
darah itu kembali teringat. Obaja mengusap air mataku.
“Kita
bisa mengubahnya bersama.”
“Bagaimana
caranya? Cara satu-satunya adalah aku meninggal dunia dan ibu tidak lembur
melainkan di rumah bersama ayah mempersiapkan pemakamanku. Hanya itu.”
“Tidakkah
kamu berpikir lebih panjang mengenai rasa sakit yang kamu tinggalkan saat kamu tidak
ada? Mereka akan lebih sakit jika mengetahui kematian yang kamu kehendaki itu.”
Tukas Obaja sedikit menggurui. Hal ini cukup membuatku sadar dan hatiku kembali
merintih keras akan siksaan mental ini. Jiwaku seperti ditebas berkali-kali
mengucurkan kepedihan.
“Ini
demi kebaikan mereka. Aku rela mati untuk kedua orang tuaku. Selama ini aku
hanya menyusahkan mereka dengan membuat nama keluargaku buruk. Aku dianggap
aneh, sakit jiwa, berkepribadian ganda, bipolar dan bahkan berapa banyak uang
yang telah mereka keluarkan untukku bertemu psikiater.”
“Sejak
melihatmu aku percaya kamu bukan seperti yang mereka katakan. Kamu adalah orang
dengan kemampuan luar biasa yang bahkan bisa menyelamatkan orang banyak.”
“Atau
dianggap orang gila.” Kataku memotong perkataan Obaja. Inilah yang selama ini
terjadi. Tak hanya siksaan dalam diriku tapi siksaan pedas sekitar juga ikut
menambah kegetiran hidup.
“Aku
yakin kita bisa memperbaiki semua ini.”
“Dengan
apa?”
“Dengan
kemampuan kita berdua.” Kata Obaja optimis.
***
Aku menangis di sudut dapur. Terbungkam.
Terpejam. Ayah dan ibu lelap dimakan malam. Satu mimpi buruk berakhir
dilanjutkan bagian terburuknya. Aku harus kehilangan kelinci berdasi
kupu-kupuku. Obaja. Esok pagi tak ada penawar sakitku setelah dijadikan kelinci
percobaan oleh anak-anak. Tak ada penghiburku disaat dunia menjadi kelabu. Tak
ada pemilik kekuatan supranatural itu lagi. Setelah rela aku menutup mata tak
melihat playboy melakukan aksinya.
Mengapa sekarang playboy itu yang
menutupkan mataku?
***
Dikabarkan
seorang pemuda tewas mengenaskan di persimpangan Jalan Kelinci. Gosip terus
memanaskan telingaku di lorong sekolah, toilet sekolah, lapangan sekolah,
kantin sekolah, bahkan gedung tua sekolah ini. Tak ada tempat sunyi tanpa
pengikisan hati yang kian memar. Inikah akhir kisah ini, cinta di sekolah
antara siswi cupu pelihat takdir dan siswa playboy
supranatural. Selamat tinggal Obaja untuk selamanya. Aku harap kamu bahagia
disana tidak sepertiku disini.
***
Sehari.
Sepekan.
Sebulan.
Setahun.
Suatu
hari.
Kelas
tetap membosankan bagi anak cupu yang dianggap aneh dan tak punya teman. Ruang
kelas yang ramai menjadi hening. Terpaku menatap ambang pintu yang terbuka.
“Else!
Aku kembali!”
Aku
sadari aku punya teman. Sekolah ini, kelas ini, hati ini kembali dihidupkan.
Obaja
terjebak di dunia lain selama ini.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar