Cerpen Takdir Pertama


Takdir Pertama
Kali pertama dalam hidup ini aku merasa sungguh bahagia dapat terlahir ke dunia. Kisah bahagia ini akan aku ceritakan dan terutama kupersembahkan untukmu, duhai cinta pandang pertamaku. Anggapan bahwa dunia itu kejam dan berat tidak sepenuhnya benar. Buktinya saja beberapa menit yang lalu terjadi kebahagiaan seketika namun kekal untuk diingat. Tepat di teras kelasmu, tawaku seperti memecah keheningan suasana sekolah setelah usai pelajaran. Amat sepi, hanya tersisa dua insan ciptaan Tuhan. Bangku panjang berwarna krem itu saksi bisu kita, iyakan? Berkatmu aku mengerti apa itu rindu, apa itu bahagia, terlebih apa itu cinta. Kamu membuatku lupa segala tumpah ruah masalah yang aku hadapi. Sering kali aku beranggapan hanya butuh melihat matamu untuk menyelesaikan masalahku. Terutama senyum manis itu. Hanya sepersekian detik kita menapak pada bumi yang sama, tarikannya sudah dapat membuat pasang bulan dalamku.
***
Aku sadar diri, dunia yang aku tinggali ini seperti tidak mengerti akan hadirku, sehingga membuang aku menuju palung laut dalam dan gelap. Persis seperti yang keluarga ini lakukan. Hidup dalam suasana rumah yang panasnya menyerupai neraka. Ayah dan Ibu sering bertengkar sejak aku kecil. Bagaimana dengan ayah sekarang? Entah berada di belahan dunia mana dirinya, seperti sudah ditelan bumi. Jika kata orang itu adalah keluarga, maka aku tidak memiliki keluarga. Aku hanyalah gadis biasa yang lelah dalam keterpurukan. Aku berusaha, mencoba, berupaya segala hal, tapi apa yang aku dapatkan? Seringkali aku merasa dunia ini tidak adil. Penuh dengan diskriminasi. Antara kaya atau miskin, pintar atau bodoh, cantik atau jelek. Dan apa yang aku punya? Aku miskin, tidak menarik, dan berasal dari keluarga berantakan. Aku harus seperti apa, wahai dunia? Aku hanya seorang gadis yang mencari jati diri dan secercak kebahagiaan.
Terlahir sebagai anak tidak jelas sudah cukup membebani, aku tahu yang akan aku terima disaat mertua menanyakan bibit-bebet-bobot. Filosofi adat Jawa ini yang selalu menghantui hidupku sesaat akan memulai kisah romansa. Apakah agamanya sama? Bagaimana dengan harta dan keluarganya? Atau seberapa kualitas otaknya? Mengapa tidak cukup hanya dengan rasa “cinta” kedua belah pihak saja? Hal-hal seperti pemisahan kasta dan membedakan itu sungguhlah memuakan. Sehingga tiap kali hubungan apapun yang aku jalani akan terus kandas di tengah laut yang akhirnya tenggelam bersama serpihan kapal Titanic.
Namun rasa tetaplah rasa. Cinta masihlah cinta. Pertemuan demi pertemuan terjadi, bahkan aku merasa bahwa setiap kejadian itu adalah takdir. Pertemuan pertama, sekaligus pertemuan teraneh yakni karena lokasinya di toilet sekolah. Aku baru saja keluar dari toilet dan tiba-tiba kamu muncul. Kita berjalan bersama, ingatkah kamu saat itu?
“Hai!”
“Oh, Hai!” kamu tersenyum padaku.
“Pelajaran apa nih?” tanyaku padamu.
“Fisika, kamu?”
“Biologi. Kamu enak yah, kan pinter banget fisika.”
Kamu tersipu lalu merendah. “Engga pinter, Cuma lumayan bisa.” Perbincangan berakhir setelah arah kita berbeda. Kitapun berpisah menuju kelas masing-masing.
Bahkan kejadian terkecil saja sudah menjadi kisah besar hidupku. Disaat kamu melewati lorong sempit dan berpapasan denganku, aku merasakan hembusan nafasmu yang begitu lembut, seperti berbaur pula dengan nafasku. Atau saat tidak sengaja kita bertubrukan di depan ruang guru bahkan disaat secara kebetulan bertemu kantin sekolah. Itu adalah keheningan disaat bukan mulut yang berbicara, bukan juga waktu yang berhenti namun hanya hati yang berkoneksi. Yang bisa aku lakukan pun hanya diam merasakan. Saat dirimu melangkah, berlari, dan pergi. Yang kulakukan hanya terpaku menatapmu sambil merasakan sensasi senang untuk hanya diriku seorang.
Pertama kalinya aku merasa hatiku amat sakit. Aku iri, cemburu dan marah. Tapi aku tidak berhak untuk marah dalam hidupmu, biarlah aku menyimpan semua perasaan ini dalam-dalam. Aku tak pernah di dekatnya apalagi menyentuhmu. Namun, kali ini aku melihatmu bersama perempuan lain yang tampak dekat denganmu sampai kau membiarkannya memegang tanganmu. Tahukah kamu bahwa perempuan itu adalah saudari jauhku?  Perempuan itu cantik, cerdik bahkan tingginya melebihi diriku, sangat layak disebut perempuan ideal. Aku meyaksikan kalian yang sedang asik dan melupakan dunia sekitar. Aku seperti orang linglung yang tak bisa berkutik. Aku diam, sakit, dan sedih sampai akhirnya kamu membalikkan badan. Kamu menatap ke arahku tepat masuk bola pupil mata dan terlukis pada retina. Tatapan itu menghapuskan amarah dan lukaku. Apakah kamu menyimpan sesuatu padaku hingga tak hanya sekali tatapan itu kau berikan?

Kamu yang selalu datang dalam mimpi indahku, sampai-sampai kepalaku penuh dengan dirimu. Setiap kali mengerjakan soal fisika, otomatis aku akan memikirkan dirimu. Kamu pemilik otak encer yang dapat menaklukan soal Olimpiade Fisika saat SMP, bagaimana aku tidak takjub? Alhasil nilai ulangan fisikaku selalu buruk, paling tinggi mencapai angka 4. Aku sudah belajar, tak ada yang salah tentang itu, hanya saja bayanganmu yang kian datang cukup menggangguku. Konsentasi sudah kuupayakan, namun senyum manis itu tetap saja muncul tanpa henti. Tahukah kamu perasaan mendalam ini belum pernah kurasakan sebelumnya? Kamulah yang pertama.
Dan aku hanya bisa melihatnya, dan terus melihatmu, tanpa kamu tahu apa yang aku rasa. Hingga aku harus pergi dan melupakanmu. Rasa ini selalu terpendam jauh di kedalaman. Ini kisah bagai pungguk merindukan bulan. Yang selalu menunggu dan menanti namun semuanya sia-sia belaka. Dan yang aku lakukan, hanya pasrah akan takdir yang begitu kejam. Aku memang memilih kalah sebelum berperang. Aku tak ingin membuatmu malu setelah mengenalku. Di titik ini aku merasa takdir tidak menyetujui hubungan keras ini. Perbedaan kasta amat terasa, hubungan seperti ini jika diteruskan hanya akan terus menyakitkan kedua belah pihak. Dan yang terpenting adalah melihat kamu bahagia.
Tak masuk akal. Cinta inipun tak masuk akal, apalagi takdir? Aku diharuskan menggarap remidian Fisika, dan aku tidak sanggup. Apakah fisika memang pantas menyatukan kita? Aku memanggil, menatap, merasakan dan memohon padamu. Kamu tersenyum.
 “Kamu mau nanya soal Fisika yang mana?” Seketika aku merasa terbebas dari lumpur hidup bernama Fisika. Sepulang sekolah, aku berlari girang menuju kelasmu. Kutemu kau seorang diri menunggu. Tanganku terasa basah dan pikiran seperti entah kemana sampai kamu tersenyum manis dan membuyarkan lamunanku. “Hay, mau nanya apa?”
Aku salah tingkah. Tak tahu apa yang harus kuperbuat, bahkan aku tidak memberimu bolpoin untuk menerangkan padamu. Tapi masih dengan kharisma yang selalu kukagumi, kamu mengambil bolpoin di saku kemejamu itu. Tepat di teras kelasmu, tawaku seperti memecah keheningan suasana sekolah setelah usai pelajaran. Amat sepi, hanya tersisa dua insan ciptaan Tuhan. Bangku panjang berwarna krem itu saksi bisu kita, iyakan? Bolehkah aku menggunakan kata kita untuk aku dan kamu? Saat ini, dunia berputar dengan sendirinya, apakah takdir juga ikut berputar? Takdir seumpama bunga musim gugur, takdir terjadi silih berganti. Semula dipertemukan, kemudian dipisahkan, lalu disatukan kembali. Sesungguhnya semua itu bukanlah takdir, melainkan jalan hidup yang kita yakini. Aku percaya takdir ada hanya untuk yang pertama, yakni disaat takdir mempertemukanku dengan sumber kebahagianku dalam hidup yang sering kali tampak berat. Jika bisa memilih, rasanya aku ingin mati saat ini juga dipelukan pemilik senyum manis dihadapanku.
TAMAT

 Akun ig : lindafebriana_252.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bahasa Daerah Dayak

Pidato bertema Global Warming

CERITA PENDEK